Khamis, 10 September 2009

SEDIKIT ASAL USUL “TASBIH”


(Da’iratul-Ma’arif Al-Islamiyyah 11/233-234, Al-Mausu’at Al-‘Arabiyyah Al-Muyassarah 1/958, Al-Mausu’at Al-Arabiyat Fatawa Rasyid Ridla 3/435-436, dan lain-lain).

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid menjelaskan bahwa "tasbih" (alat penghitung zikir berbentuk rantai) telah dikenal sejak sebelum Islam.

Tahun 800 M orang-orang Budha telah menggunakan tasbih dalam ritualnya. Begitu juga Al-Baraahimah di India, pendeta Kristen, dan rahib Yahudi. Dari India inilah kemudian berkembang ke benua Asia.

Orang Katolik menggunakan 50 biji tasbih kecil yang dibagi menjadi empat yang diberi pemisah dengan biji tasbih besar dengan jumlah yang sama. Juga dijadikan sebagai kalung yang terdiri dari dua biji besar dan tiga biji kecil, kemudian “matanya” dibuat dengan tanda salib. Mereka membaca puji Tuhan dengan biji tasbih yang besar, dan membaca pujian Maryamiyyah dengan biji tasbih yang kecil.

Orang-orang Budha diyakini sebagai orang yang pertama menggunakan biji tasbih untuk menyelaraskan antara perbuatan dan ucapannya ketika sedang melakukan persembahyangan. Juga dilakukan oleh orang-orang Hindu di India, dan dipraktekkan oleh orang-orang ......

Tiada ulasan:

Masa